Foto : Lomba Lari Karung Tingkat Anak-anak. Lomba lari karung ini sangat diminati oleh anak-anak. Ini dilihat dari banyaknya jumlah peserta dan antusiasme dari anak-anak dalam mengikuti perlombaan lari karung ini.
Foto : Pertandingan Sepak Takrow antar Club
Foto : Penyerahan Piala dan Uang Pembinaan kepada Peraih Juara I Pertandingan Sepak Takrow. Pada Pertandingan ini dimenangkan oleh Tim Sepak Takrow dari Desa Mandiri Kecamatan Tomoni Kabupaten Luwu Timur.
Foto : Penyerahan Hadiah Hiburan kepada anak-anak pemenang Lomba Lari Karung.
Kantor Kelurahan Tomoni : Jl. Andi Lebbi-Lingkungan Kuwarasan II, Kel. Tomoni, Kec. Tomoni, Kab. Luwu Timur, Prov. Sulawesi selatan, Kode Pos 91972
Senin, 02 September 2013
Pagelaran Kuda Lumping pada Rangkaian Perayaan HUT RI ke 68 di Kelurahan Tomoni
Foto : Plt. Lurah Tomoni bersama para penari Kuda lumping dalam Perayaan HUT RI ke 68 di Keluarahan Tomoni, Kecamatan Tomoni, Kabupaten Luwu Timur.
Sebagai wujud syukur atas kemerdekaan yang direbut oleh pahlawan bangsa indonesia, HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 di Kelurahan Tomoni dirayakan dengan berbagai kegiatan Pertandingan, perlombaan dan seni. Salah Satunya adalah pagelaran Seni Budaya Kuda Lumping. Kuda Lumping ini sengaja ditampilkan dihadapan seluruh masyarakat khususnya masyarakat Kelurahan Tomoni untuk menunjukkan kembali eksistensinya karena selama ini sanggar Tari Kuda Lumping ini telah lama vakum.
Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia.
Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Konon, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.
Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.
Di Jawa Timur, seni ini akrab dengan masyarakat di beberapa daerah, seperti jamban, kolong jembatan, rel kereta, dan daerah-daerah lainnya. Tari ini biasanya ditampilkan pada ajang-ajang tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
Dalam pementasanya, tari kuda lumping menggunakan kaca,beling,batu,dan jimat. Para penari kuda lumping sangat gila
Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka. (sumber: Wikipedia Indonesia)
Sebagai wujud syukur atas kemerdekaan yang direbut oleh pahlawan bangsa indonesia, HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 di Kelurahan Tomoni dirayakan dengan berbagai kegiatan Pertandingan, perlombaan dan seni. Salah Satunya adalah pagelaran Seni Budaya Kuda Lumping. Kuda Lumping ini sengaja ditampilkan dihadapan seluruh masyarakat khususnya masyarakat Kelurahan Tomoni untuk menunjukkan kembali eksistensinya karena selama ini sanggar Tari Kuda Lumping ini telah lama vakum.
Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia.
Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Konon, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.
Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.
Di Jawa Timur, seni ini akrab dengan masyarakat di beberapa daerah, seperti jamban, kolong jembatan, rel kereta, dan daerah-daerah lainnya. Tari ini biasanya ditampilkan pada ajang-ajang tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
Dalam pementasanya, tari kuda lumping menggunakan kaca,beling,batu,dan jimat. Para penari kuda lumping sangat gila
Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka. (sumber: Wikipedia Indonesia)
Kamis, 18 Juli 2013
Keadaan Geografis Kelurahan Tomoni
Batas
Wilayah
Wilayah
Kelurahan Tomoni berbatasan dengan:
- Sebelah Utara : Sungai Tomoni, Desa Wonorejo dan Desa Balai Kembang
Kecamatan
Mangkutana;
- Sebelah Selatan : Desa Mulyasri Jalan Poros Mulyasri dan Bangun Jay;
- Sebelah Timur : Desa Bangun Jay;
- Sebelah Barat : Desa Mandiri dan Desa Kalpataru
Luas Wilayah
Luas Kelurahan Tomoni adalah sekitar ± 1.8 km2. Melintang dari Selatan ke Utara sepanjang ± 1.229 m dan dari timur ke barat ± 2.145 m.
Keadaan
Topografi
Secara umum Kelurahan Tomoni adalah
daerah dataran rendah yang memiliki potensi sebagai daerah Perdagangan yang
terus berkembang dan berkelanjutan, Selain
itu juga terdapat sumber daya air yaitu sungai Tomoni yang
di manfaatkan oleh sebagian besar masyarakat sebagai bahan material bangunan.
Iklim
Iklim di Kelurahan Tomoni sama dengan sebagaimana desa lain di
kecamatan Tomoni adalah beriklim tropis dengan dua musim yakni musim kemarau
dan musim penghujan.
Wilayah
Administrasi Kelurahan
Tomoni terdiri atas 4 (empat)
Lingkungan yaitu Lingkungan Kuwarasan I dengan
jumlah RT sebanyak 3 (tiga), Lingkungan
Kuwarasan II dengan jumlah RT sebanyak 2 (dua), Kuwarasan
III dengan jumlah RT sebanyak 2 (dua),
dan Lingkungan Bulu – bulu dengan jumlah RT sebanyak 2
(dua). Jadi Keselurahan terdapat 9 (Sembilan ) RT.
Sejarah Kelurahan Tomoni
Terbentuknya
Kelurahan Tomoni yang sebelumnya adalah Desa Tomoni tidak terlepas dari sejarah
kerajaan Luwu, mengingat awal mulanya masyarakat (suku asli) yang bertempat
tinggal di Kelurahan Tomoni sekarang ini, itu berasal dari kerajaan Sasa
Baibunta yang berkedudukan di daerah Lamuriu dan Rajanya bernama Bala Ilo
Pance. Terpencarnya masyarakat (rakyat) Sasa Baibunta disebabkan terjadinya
kesalapahaman antara Raja Sasa Baibunta dengan Datu Luwu, sehingga Kerajaan
Luwu melakukan penyerangan, sampai tiga kali. Wal hasil Kerajaan Sasa Baibunta
kalah dan pada akhirnya rakyatnya terpencar ketiga Daerah, yakni Lambarese,
Lewonu dan Rompo. Daerah Rompo (yang artinya pertemuan) awalnya berkedudukan di
Kaboro-boro (nama kampung) yang dipimpin ketua Adat (kepala kampung) keturunan
Balailo Pance. Setelah itu pindah dan berkedudukan di sipon (nama kampung), dan
yang menjadi ketua Adat (Kepala Kampung) adalah keturunan Balailo Pance yang
bernama ”Tanca Lino”, lalu kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama
”Magee”.
Pada
waktu kepemimpinan Magee inilah, terjadi perubahan nama Rompo menjadi kampung
“Walili” (yang artinya kembali), dan dimasa kepemimpinan Magee inilah, beberapa
suku lain (pendatang) datang bertempat tinggal dan berusaha di Walili, terkait
itu pula kampung Walili berganti nama menjadi “Tomoni” (yang artinya berbunyi)
karena pada waktu itu ketika musim kemarau datang, bunyi sungai Tomoni sangat
nyaring dan indah kedengaran dan kedudukannya berpindah ke Bulu-Bulu sampai
kolonialisasi datang.
Dengan
adanya kolonialisasi, telah terjadi perubahan, yang awalnya Kampung Tomoni di
pimpin oleh Ketua Adat (Kepala Suku) dirubah dengan sistem pemerintahan Modern,
sehingga Kampung Tomoni berubah menjadi kelurahan yang di pimpin oleh “Maroangin”
berkisar pada Tahun 1945, pada waktu perang kemerdekaan. Dan pada waktu itu
wilayah Kelurahan Tomoni berkisar, antara lain ; Wilayah Barat dibatasi dengan
pegunungan, Wilayah Timur dibatasi Mulyasri (tepatnya rumahnya Tuan Muda, sekarang),
Wilayah Utara dibatasi dengan Sungai dan diwilayah Selatan berbatasan dengan
Wotu (tepatnya Kaya’a, sekarang), dibawah naungan Kecamatan Mangkutana.
Setelah
kepemimpinan Maroangin, Kelurahan Tomoni berubah menjadi Desa Tomoni di bawah kepemimpinan
“Satundan” selaku Kepala Desa, berkisar Tahun 1970. Dan pada waktu masa
kepemimpinan Satundan inilah terjadi peristiwa DIT II (Gerombolan), dan pada
waktu itu pula banyak warga masyarakat Desa Tomoni masuk pasukan Gerakan Pemuda
Sulawesi Tengah (GPST). Sehabis kepemimpinan Satundan selaku Kepala Desa maka
digantikanlah oleh “Ahmad Mangerang”, berkisar pada Tahun 1975. Setelah Ahmad
Magerang, kepemimpinan Desa Tomoni di pimpin oleh “Pa’ Saad”, berkisar pada
Tahun 1978. kepemimpinan Pa’ Saad hanya berkisar 1 (satu) Tahun, lalu di
gantikan kembali oleh Ahmad Mangerang selaku Kepala Desa Tomoni. Dan setelah
Ahmad Mangerang, Kepemimpinan Desa Tomoni di pejabat sementarakan (PJS) kepada
“Drs. Jus’an. Dan setelah itu kepemimpinan Desa Tomoni di pimpin oleh
“Sabirin”, berkisar pada Tahun 1995, selaku Kepala Desa.
Pada
waktu kepemimpinan Sabirin, Desa Tomoni mengalami Desa Tomoni mengalami
pemekaran, dalam hal ini adalah Desa Mandiri. Kepemimpinan Sabirin hanya 3
(tahun), hal ini disebabkan pada waktu itu Kepala Desa tidak diperbolehkan merangkap
jabatan, karena Sabirin pada waktu itu selaku Kepala Desa sekaligus sebagai TNI.
Setelah kepemimpinan Sabirin, kepemimpinan Desa Tomoni di jabat oleh Ir. Rahman
Sanusi sebagai Pejabat sementara (Pjs) Kepala Desa, berkisar pada Tahun
1998-1999. Lalu kemudian kepemimpinan Desa Tomoni, di pimpin oleh “Ahmad
Mangerang”, berkisar Tahun 2000-2008, selaku Kepala Desa Tomoni. Sampai
sekarang pemerintahan Desa Tomoni di Pejabat Sementarakan (PJS) kepada Drs.
Andi Baso Tenriesa, sekaligus selaku Camat Tomoni. Hal ini disebabkan masa
jabatan Ahmad Mangerang selaku Kepala Desa telah berakhir. Pada saat itu, Desa
Tomoni merupakan salah satu desa yang yang dipersiapkan akan diubah statusnya
menjadi kelurahan. Dalam proses perubahan status tersebut banyak terjadi pro
dan kontra yang memakan waktu cukup lama. Dalam masa-masa tersebut Pemerintah
Desa Tomoni sempat dipimpin oleh Sulkarnain sebagai pejabat sementara Kepala
Desa sekaligus sebagai Sekretaris Desa Tomoni. Berdasarkan Peraturan Daerah
Kabupaten Luwu Timur Nomor 24 Tahun 2011 akhirnya Desa Tomoni secara sah telah berubah
statusnya menjadi Kelurahan. Namun pada saat telah ditetapkannya dengan
Peraturan Daerah tersebut perangkat kelurahan belum terisi. Sekitar Maret 2012
barulah diangkat Sekretaris Kelurahan yaitu I Ketut Riawan Budiarta yang
sekaligus merangkap sebagai Pelaksana Tugas Lurah. Perangkat Desa (Kaur dan
Bendahara Desa) yang sebelumnya menjabat masih tetap diberdayakan hingga saat
ini sebagai perangkat Kelurahan dengan status kepegawaian yaitu Upah Jasa.
Senin, 01 Juli 2013
Langganan:
Komentar (Atom)





